Mari kita bicara soal yang konseptual. Diantara angan dan kesadaran, maka hal ini hanyalah khayal. Menindak lanjuti proses belajar formal, mengenai perancang teori yang fenomenal. Irasional. Sebelumnya, saya pernah membenci yang disebut teori. Karena apa apa yang saya pelajari selalu berkebalikan 180 derajat dengan apa yang terjadi, setidaknya saya rasakan. Dan memang teori diciptakan bukan untuk mengikat dunia bersama orang orang berkepala lebih luas dari dunia itu sendiri. Saya anomali, mengapa harus benci teori? Padahal dia tidak pernah menyakiti, tapi hanya membatasi. Maka hal hal khayal yang konseptual malam ini adalah teori yang perlu dieksplorasi.
Setidaknya, ada sebuah yang menarik dalam arketipe Carl Gustav Jung. Mekanisme kesadaran alam bawah sadar kolektif yang mengikat sejak sebelum diantara kita terdeferensiasi menjadi pria atau wanita. Saya sederhanakan saja, salah satu dari hal tersebut adalah seperti dongeng. Dongeng itu mujarab, karena tumbuh disetiap hati pendengarnya. Dan dengan stereotip yang diputar dalam frekuensi gelombang kesadaran rendah manusia, dongeng menyelinap, diam diam memasuki kesadaran, terlalu halusnya hingga kesadaran itu sendiri tidak dapat menemukannya. Hingga akhirnya mencoba hinggap diantara tumpukan memori, tak dapat dicegah, ia akan melapukkan diri agar subur meresapi jiwa jiwa. Tidak heran, manusia seakan tidak asing akan beberapa hal didunia, padahal entah kapan muatan itu masuk dalam otaknya. Ya, kurang lebih itulah adegan kesadaran alam bawah sadar kolektif membius dalam setiap manusia. Baiklah, saya tahu. Saya tak secerdas para kuli tinta dalam menganalogikan sebuah teori, tapi setidaknya itu tadi adalah pembukaan yang dapat dilanjutkan untuk meretas isi isi konseptual yang khayal atau hal hal khayal yang konseptual.
Banyak orang sedikit sensi ketika menyinggung soal agama. Apalagi kalau mau mengkhususkan topik pada pertikaian agama x dan agama y. Maka, terlepas dari apa agama saya, entah itu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, bahkan baru baru ini ada buku yang berjudul agama saya adalah jurnalisme, saya akan mencoba menyinggung sedikit soal kegiatan sehari hari beribadah kepada apa yang disebut Tuhan. Untuk mengenal Tuhan maka perlu mengenal cinta, dan kedua hal itu berkesinambungan, untuk merasakan keduanya adalah mengenai pengalaman, bukan penjelasan. Mengenai perjalanan, bukan tujuan. Jelas, ini adalah kutipan dari novel Madre karya Dewi Lestari. Tapi, untuk melewati oposisi dari arketipe yang membuncah sedari kemarin sore, maka saya hanya berkesimpulan ringan: ibadah dan doa doa adalah serangkaian prinsip ekonomi di hadapan Tuhan. Apakah ini yang diinginkan Tuhan atau para dewa? Melihat umatnya melakukan pertukaran harapan? Terlepas dari perseptual kalian semua memaknai rasa dari ketenangan sewaktu berdoa dan beribadah. Dan sistim inikah yang diinginkanNya? Apakah tidak ada jalan keluar untuk melepas dari persona dan kepura puraan macam begini? Apakah saya saja yang terbilang terlambat bertanya tentang hal ini? Kesadaran kolektif inilah yang ingin saya bahas. Sedari kecil, saya tak pernah bertanya mengapa sore ini hanya mengaji satu lembar halaman Quran. Mengapa saya harus jungkir balik komat kamit, minta ini dan minta itu? Beginikah tujuan terciptanya kehidupan? Ketidaksadaran ini memang tidak perlu dipermasalahkan, saya paham. Saya hanya sok kritis sedari kemarin, tapi KENAPA? Mungkin memang pertanyaan ini tidak cocok dengan segala jawaban. Tapi tak apalah, untuk mengangkat kesadaran dari ketidaksadaran kolektif seperti ini, maka siapkanlah mental dan nurani, karena permasalahan ketidaksadaran kolektif biasanya akan berhadapan dengan realita sosial, dengan pandangan maupun sikap sinis nan skeptis orang orang, karena terlalu berakar pada setiap urat nadi dan kapiler kapiler halus setiap jiwa manusia. Untuk menjelaskan kepada apa yang disebut keyakinan, sungguhlah perlu banyak hal yang dipersiapkan, pencarian ini mungkin akan berhenti jika lelah, jika sudah terengah engah atas atmosfer yang tidak sesuai dengan paru paru saya. Mungkin juga, akan terus berjalan sambil melawan, juga bertanya. Atau mungkin saya akan menunggu tarian para dewa, melihat dunia ini tersenyum tentram. Masih dalam konsep teori Carl Gustav Jung, manusia dan Tuhan itu adalah ibarat pulau dan bumi. Pulau itu hanya tidak melihat dasar bumi karena tertutupi oleh air. Manusia tidak berhak memisahkan dirinya pada Tuhan, karena Tuhan-lah yang mengkategorikan dirinya adalah Tuhan dan kita adalah manusia sebagai umat. Sehingga adanya perbedaan mulai nampak untuk sebuah uji coba kehidupan. Karena pulau dan dasar bumi sekalipun selalu menjadi kesatuan yang tak terbendung sekalipun seberapa tinggi volume air menyelimutinya. Maka, jika manusia dan Tuhan punya sebuah kesatuan, tidakkah bisa kita sama sama berdiskusi soal sistem yang ada antara saya denganMu? Apa jangan jangan Kau tidak tahu, kalau sistem dibumi sedemikian rupa? Ah, tidak mungkin. Tuhan kan Maha Tahu.



