Jun 17, 2017

Mekanisme Jatuh Cinta Menurut Psikoanalisis


Sumber: Pinterest

Dalam tulisan ini, saya tak hendak mengutarakan suatu teorema pythagoras pun bukan pula rumusan tentang dialektika sosial yang beritma-ritma. Saya hendak menceritakan sebuah pengalaman yang sifatnya sangat personal, sebagaimana cara kerja psikoanalisis yang selalu menggunakan kacamata subyektivitas dalam sebuah konstruksi analisis sebagai cara mencapai pemahaman yang kontekstual. Perlu diketahui juga, bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan untuk rumusan tata cara seperti tips dan trik kongkrit yang tersebar di wilayah praktis, juga bukan dialamatkan serupa gugatan pada dunia. Ini mungkin hanya sebagai catatan sederhana tentang bagaimana pilihan untuk jujur dapat menyelamatkan kehidupan, setidaknya kehidupan pribadi saya sendiri.
 
Sebagai seorang yang memutuskan untuk menekuni dunia kepenulisan, sekaligus memilih jalur psikoanalisis sebagai dasar berkarya, menghadapi sisi baik-buruk diri merupakan sebuah keniscayaan. Bayangkan, dalam menggarap sebuah proses tulisan, saya dapat menjumpai berbagai macam sisi diri saya yang mungkin sebelumnya tidak pernah disadari. Sejujurnya, awalnya saya menulis hanya untuk kebutuhan pemenuhan psikologis sebagai sebuah medium untuk melampaui katarsis, menghadiri rasa sakit, menerjemahkan ketidaktahuan dan sebagai  upaya untuk bisa menghadapi dunia yang tidak seperti kelihatannya. Cara tersebut berhasil membawa saya untuk semakin dalam membuka pintu cermin dalam penelusuran diri yang penuh dengan luka interpretasi pengalaman. 

Konsekuensinya, jalur berkarya saya menjadi sangat berkorelasi dengan tumbuh kembangnya jati diri. Konflik demi konflik dapat diibaratkan seumpama jembatan yang dapat mengantarkan diri pada kedewasaan dalam memandang dunia. Apa yang saya hasilkan dalam suatu proses kreatif sangatlah tergantung dengan perspektif saya dalam memandang kehidupan. Hal tersebut seakan menjadi suatu pola dimana akhirnya saya harus selalu menjaga kesadaran terhadap fase apa yang sedang saya lampaui. 

Terkadang ini pun menjadi tidak mudah, bahwa ketika saya dapat jujur mengungkapkan suatu konflik diri di atas kertas, tidak serta merta kemudian saya memberikan izin untuk memproyeksikan hal tersebut di hadapan publik dalam sebuah judul tulisan—misalnya. Saya masih harus melalui sebuah proses yang menggiring pada suatu kesimpulan penerimaan diri, sebelum kisah saya yang sangat personal itu menjadi milik semua orang. 

***

Berikut akan saya ikhtisarkan sebuah perjalanan perasaan yang merupakan bagian dari tumbuh kembangnya diri tersebut. Saya pernah memaknai cinta dengan begitu platonis; memendam rasa begitu lama, hanya mampu melihat si dia dari kejauhan, hingga hanya gagap ketika berinteraksi dengannya. Itulah masa remaja saya yang begitu mendewakan perasaan suka, memuja dewa cinta seperti memuja Tuhan, serta melakukan persembahan melalui rasa setia yang dipupuk oleh bangunan ilusi. Itu terjadi sangat lama, mengiringi pertumbuhan kedewasaan antara masa remaja menuju dewasa awal.

Pada saat itu, saya begitu menghayati perasaan gagal, marah dan ingin melakukan pengembaraan yang jauh untuk membuang nasib sial. Dampaknya sangatlah krusial, saya terjebak pada perspektif kehidupan yang begitu sempit, menjadi tidak pernah beranjak terhadap seorang pria yang saya hidupkan selama bertahun-tahun dalam sebuah kotak bernama imajinasi. Akhirnya dalam beberapa tahun terakhir, saya harus menghadapi realita yang memberikan pengalaman pahit dalam memandang diri sendiri. Cermin yang memantulkan gambaran menyedihkan tentang diri saya itu benar-benar menyiksa. Tapi, melalui kesediaan untuk mengalami kesakitan dan menyelami penderitaan, sedikit demi sedikit saya mampu memaafkan berbagai pengalaman di masa lampau. 

Pengalaman demi pengalaman itu kemudian mengantarkan saya pada situasi hari ini: saya kembali merasa jatuh cinta. Setelah beberapa kali gagal dalam urusan perasaan dalam jangka waktu yang terbilang lama, saya akhirnya memberanikan diri untuk mengagumi seorang pria. Betapa kemudian saya akhirnya menyadari bahwa titik itu adalah sebuah kulminasi dari proses berdamai dengan diri sendiri.  Merasakan kembali bunga-bunga asmara pada lautan kenyataan merupakan harapan untuk melanjutkan kehidupan, merujuk lahirnya eros sebagai pompa insting hidup manusia di bumi. 

Saya sempat ragu, apakah saya perlu mengulangi mekanisme yang sama dalam hal pemujaan terhadap perasaan seperti dahulu kala? Ataukah saya hanya perlu mengaku agar tak terjadi pengembaraan asmara yang berlarut-larut lamanya? Keduanya adalah pilihan yang barangkali sama-sama berpotensi menawarkan kepahitan. Letak perbedaannya adalah mengenai bentuk penyikapan, antara kembali lari dalam ilusi ataukah menghadapi kenyataan melalui pertaruhan harga diri di atas fakta dan realita.

Berhari-hari saya hanya mampu memandangi dia dari kejauhan, melemparkan senyum sembari melewati meja tempatnya bekerja, dan hanya lunglai tidak berdaya saat Ia melemparkan satu dua lelucon sebagai bahan sapaan. Saya dilanda gundah gulana selama beberapa pekan lamanya, ditambah lagi ada banyak saran dan nasehat yang dialamatkan pada saya untuk mendobrak tembok keraguan sekaligus memulai jalannya komunikasi. Di sinilah letak sulitnya, dimana saya berada pada situasi yang harus memulai duluan sehingga benar-benar menyandera harga diri sebagai seorang perempuan. 

Pada suatu titik akhirnya saya merenung panjang terhadap sikap menghadapi perasaan jatuh cinta tersebut. Kian banyak pertimbangan soal suatu hubungan seperti pacaran, menikah kemudian berkeluarga, mengingat dewasanya usia. Tetapi, apa yang dapat menyelamatkan diri dari suatu keterpurukan selain sebuah kejujuran? Tiba masanya saya memilih untuk jujur pada diri sendiri sebelum datang keberanian untuk mengungkapkan rasa pada yang bersangkutan. Meski ini pun  mungkin akan tetap mengarah pada jawaban ketidakpastian sebuah perjalanan panjang hati dan perasaan. 

Salah satu alasan yang dapat terjelaskan tentang dia adalah kehadirannya sebagai sosok yang nyata. Ini berkaitan dengan masa lalu saya pribadi tentang bagaimana mekanisme diri menghadapi rasa suka dengan membangun imajinasi yang berisi ekspektasi terhadap seseorang yang sebenarnya tidak terjangkau. Pria yang saya suka sekarang ini hadir dalam ruang dan waktu yang kongkrit, meskipun kami masih berjarak oleh situasi dan kondisi. Barangkali Ia adalah sebuah proyeksi dari pemenuhan jati diri, eksistensi dan sebuah hasrat alam bawah sadar tentang kerinduan pada sosok yang familiar. 

Satu yang kemudian saya yakini sebagai upaya untuk bertumbuh dan berkembang: saya sedang memilih kejujuran. Meskipun sedikit naif rasanya bahwa kejujuran mungkin menuntut hal yang lain usai tercurahnya segala rasa dan asa dalam sebuh ungkapan. Namun betapapun ada beragam kemungkinan resiko patah hati, saya telah mencoba untuk memahami bagaimana proses jatuh hati dapat membuat perspektif hidup menjadi lebih lapang dalam menghadapi segala kesulitan. 

Demikian sebuah proses jatuh hati yang dapat saya jelaskan berdasarkan pengalaman paling personal pribadi saya sendiri. Sekali lagi, tulisan ini tidak hendak menawarkan sebuah tips dan trik untuk menghadapi betapa nano-nano nya situasi diri yang sedang dilanda asmara. Ini adalah sebuah upaya untuk menafsirkan suatu proses penting dalam kehidupan pribadi penulis. Terimakasih telah berbetah diri menikmati sebuah sajian serius soal cinta, manakala segalanya masih tampak tidak jelas. Semoga tidak menjadi satu-satunya referensi dalam menghadapi perihal serumit cinta dan perasaan.

0 komentar:

Post a Comment

About Me

My Photo
sekolah di belanda, makan di italia, mandi di rusia, terlunta lunta di barcelona, menari di irlandia, tapi hati tetap Indonesia Raya!!!
Mutia Husna Avezahra | contact me at avezahra@gmail.com
 

Copyright © avezahra Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger